Bismillah…

Memaknai dan Merenungi Dzikir Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil
tahajjud
-Subhanallah: itu bermakna tasbih, tanzih, menyucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, membersihkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setiap perkara yg tidak layak baginya seperti keyakinan orang bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sekutu2 dalam hal penciptaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki anak, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki pembantu2 yg membantunya dalam mengurusi alam semesta, Allah Subhanahu wa Ta’ala membutuhkan penolong2, maka Allah syariatkan hambanya mengucapkan Subhanallah, Maha Suci Allah dari tuduhan2 yg keji tsb, Maha Suci Allah dari tuduhan2 kaum musyrikin yg menuduh Allah memiliki anak, dan lain sebagainya dr sifat2 kekurangan, Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala dr tuduhan org2 yg menuduh Allah Subhanahu wa Ta’ala letih sehingga Allah beristirahat pd hari sabtu, dsb, maka kaum muslimin dan muslimat diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyucikan Allah dr hal yg demikian tsb, Subhanallah…

Allah mengatur seluruh alam semesta yg tiada terhingga ini, dari kalangan malaikat, jin dan manusia, binatang dan jasad krenik, dari kalangan benda mati, perputaran bumi dan benda2 langit dan lainnya Allah yg mengatur semuanya dan Allah tidak letih untuk itu, Allah tidak mengantuk apalagi tidur, Allah Maha Suci dari segala kekurangan2, kelemahan2, Allah Maha Hidup, Maha Sempurna Hidupnya, tidak ada awalnya dan akhirnya dan Berdiri Sendiri tidak butuh kpd makhluknya, Allah mengatur, mengurus makhluknya tanpa terkecuali, yg besarnya maupun yg kecilnya, yg kasar maupun yg halusnya, dan daripada itu Allah tidak letih, mengantuk dan tertidur, Allah As-Salam dan Al-Quddus, Allah tersucikan dari segala kekurangan2, Allah tidak identik dengan sifat2 kekurangan sebagaimana makhluk betapapun kuatnya dia akan butuh istirahat, butuh makan, dan sifat membutuhkan menunjukkan kelemahan, Allah Maha Sempurna Allah tidak membutuhkan sesuatu, Maha Suci Allah dari sifat ketergantungan berbeda dengan makhluk yg bergantung kpd Allah yg penuh kelemahan2, letih, ngantuk, tidur, ini makna dari Subhanallah…

Tatkala seorg hamba mengucapkan Subhanallah hendaknya tergambar di benaknya terbesik dipikirannya dengan seksama dia menghayati betapa Allah Maha Suci dr sifat2 yg penuh kekurangan, Maha Suci Allah dengan kesempurnaan Sifat-Nya, sehingga dengan menghayati ini ucapan Subhanallah akan bermakna, akan agung jika keluar dari lisan dan hatinya …

-Alhamdulillah: menetapkan segenap sifat2 kesempurnaan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-Nya, sifat-Nya, perbuatan dan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mencakup semua nama2 Allah yg mulia, dengan Alhamdulillah mencakup disitu memuji Allah dengan nama-Nya Ar-Rahman Ar-Rahim, Ar-Rabb, Ghafarurrahim, Al-Malik, Al-Jabbar, Al-Hayyu Al-Qayyum, dan segenap nama Allah yg Maha Mulia terkandung didalam lafazh Alhamdulillah, segenap pujian dan kesempurnaan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, masuk didalamnya Rabb, Yang Maha Mencipta dan Memelihara alam semesta, Ar-Rahman yg Maha Penyayang kpd hamba-hamba-Nya, Ar-Rahim yakni rahmat dan kasih sayang Allah sampai pd hamba-Nya, Al-Qayyum Allah berdiri sendiri dan mengatur segala urusan hamba-Nya, Al-Aziz Yang Maha Perkasa, ini semua nama dan sifat2 yg mulia masuk ke dalam makna Alhamdulillah, segala pujian dan kesempurnaan hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tatkala seorang hamba mengucapkan Alhamdulillah dia akan merasakan keagungan, kebesaran, kemuliaan, keperkasaan, rahmat dan kasih sayang Allah, pengaturan Allah atas alam semesta, dengan mengucapkan Alhamdulillah

-Allaahu Akbar: dia menetapkan sifat keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sifat kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik Dzat-Nya yg Maha Besar yg tdk terkirakan bagi hamba-Nya, yg tidak ada satupun seorg hamba dapat mengirakan betapa besarnya Dzat Allah SWT, yg tiada terkira betapa besar kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yg tidak dapat diperkirakan oleh seorg hamba betapa Allah penuh keagungan, penuh kemuliaan, semua sifat kebesaran Allah tsb ada pd diri-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sehingga tatkala seorang mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allaahu Akbar akan mendatangkan keutamaan-keutamaan, dan akan membekas dalam kehidupan kesehariannya, dan ketika seorg hamba membaca dalam keadaan dia merenungi meyakini apa yg dia ucapkan akan merasakan kelak disisi Allah bagaimana kalimat tsb melindungi dia dr neraka jahannam, bagaimana kalimat2 tsb menumbuhkan pohon2 di surga, bagaimana kalimat tsb akan selalu mengingatkan dia di sisi Allah di ‘Arsy-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala

-Laa ilaaha illallaah: pengakuan seorg hamba, keimanan seorg hamba dengan memurnikan segenap peribadahan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, segenap penghambaan hanya untuk Allah dan berlepas diri membersihkan diri dari noda2 kesyirikan yakni penyerahan ibadah kpd selain allah Subhanahu wa Ta’ala, ini sebagai konsekuensi dari kelaziman ucapan Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar, seorg hamba yg meyakini Allah memiliki sifat yg Maha Sempurna, yg meyakini kebesaran allah Subhanahu wa Ta’ala, yg meyakini keperkasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yg meyakini Allah penuh rahmat dan kasih sayang-Nya, yg meyakini Allah memiliki Sifat Keadilan yg sempurna, yg meyakini Allah tersucikan dr sifat2 kekurangan, Dzat yg seperti ini sudah sepatutnya dan selayaknya hanya diserahkan kpd-Nya saja segenap peribadahan, ucapan Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar, Laa ilaha illallah ini mencakup sisi2 tauhid, mencakup sisi keyakinan seorg hamba dari semua sisi dan penjuru, sehingga kita saksikan betapa agungnya kalimat2 ini

Sehingga jika kita ucapkan Subhanallah, Alhamdulillah dan Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaah diucapkan dengan penuh keyakinan maka akan mengantarkan seorg hamba di posisi yg sangat mulia disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadi tameng dia dr neraka jahannam, akan menumbuhkan baginya pohon2 disurga, akan menyebutkan dirinya selalu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala bagaikan dengungan lebah tatkala kita dengar suaranya, dengan meresapi kata perkata dan kalimat yg keluar dari lisan kita, yakni Subhanallah pensucian Allah dari segenap sifat2 kekurangan yg dituduhkan oleh org2 musyrikin dan kafirin, Alhamdulillah menetapkan Nama2 dan Sifat2 Sempurna hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Akbar meyakini kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan sifat2 Allah yg Maha Besar, dan Laa ilaha illallah yakni persaksian dan keimanan seorg hamba untuk tidak layak menyerahkan sedikitpun peribadahan kpd selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ibadah hanya utk Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka apabila kalimat tsb terucapkan dari lisan dan hatinya penuh perenungan makna tsb, maka Subhanallah dia akan mendatangkan kemanfaatan disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dikatakan syaikhul islam dzikir yg paling mendatangkan kemanfaatan bg seorg hamba didunia dan akhirat tatkala dzikir yg diucapkan di lisan selaras seiring seirama dengan apa yg ada pd hatinya…

by Ustadz Al-Fadhil Abdul-Barr Hafhizahullah

sumber

dari sini
-semoga bermanfaat-

bulan purnama 2

Sahabat, beberapa malam terakhir ini bulan sangat indah, berpijar mempesona menerangi dari langit sana. Ya sobat, silih berganti dengan matahari, siang matahari menerangi dengan cahaya kuat untuk mendorong manusia beraktivitas dan mencari rezki untuk melanjutkan hidupnya, dan malam kini giliran bulan berpijar dengan cahaya sederhana memberi kesempatan untuk mengistirahatkan kita. Coba sobat gak ada salahnya luangkan waktu kita untuk menatap bulan terutama ketika bulan sedang gagah-gagahnya, ketika bulatnya mulai sempurna lalu kemudian purnama, ya ketika pertengahan bulan hijriah (13, 14, 15 Hijriah), biar momen ini lebih bermakna, selagi melihatnya maka hadirkanlah dihati untuk juga bertafakkur tentangnya, diantaranya renungkanlah bahwa:

 
1. Salah satu kenikmatan terbesar kelak yg akan diperoleh oleh penghuni surga adalah memandang Allah, ya sobat misalkan saja nih kita merantau dalam jangka waktu yg lama bertahun-tahun meninggalkan orang tua dan keluarga kita kemudian tiba saatnya kita kembali ke kampung halaman berjumpa dengan ibu ayah kita, gimana rasanya? Wah dijamin ada tangis haru disana, kerinduan yg telah lama terpendam kini tercurah, kita peluk tubuhnya, kita cium wajahnya sambil menangis haru, nah bagaimana lagi harunya, bagaimana lagi nikmatnya ketika hamba bertemu Rabb nya, Tuhan yg selama ini dia beribadah kepada-Nya, bersimpuh bermunajat kepada-Nya, Rabb yg menciptakannya, menciptakan ayah ibunya, dan seluruh makhluk, ruang dan waktu.

Dari Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkisah: “Kami pernah duduk bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu beliau memandang ke arah bulan pada malam purnama. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kalian akan memandang Rabb kalian sebagaimana kalian memandang bulan. Kalian tidak berdesakan ketika memandang Allah. Jika kalian mampu, untuk tidak terlewatkan shalat sebelum terbitnya matahari (shalat Subuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (shalat ‘Ashar), lakukanlah!” (Bukhari-Muslim)

Ya sobat, sebuah kenikmatan yg agung, melihat Allah dengan mata kepala tanpa saling berebutan sebagaimana ketika kita melihat bulan purnama, namun bukan berarti menyamakan dengan yg dipandang, Maha Suci Allah dari penyerupaan dengan sesuatupun

2. Tau gk sobat Nabi kita yg mulia, Muhammad bin Abdullah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, adalah orang yg sangat tampan, ya tampan wajahnya, tampan hatinya, teduh wajahnya penuh kejujuran, sebagaimana kata Syeikh As’Sadi rahimahullah bahwa orang yang munshif, yang tidak mempunyai keinginan kecuali mengikuti kebenaran, hanya dengan melihat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendengarkan tutur kata beliau, akan segera beriman kepada beliau dan tidak sangsi terhadap risâlahnya. Banyak orang yang hanya sekedar menyaksikan wajah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi yakin bahwa itu bukan wajah seorang pendusta.

Terus apa hubungannya dengan bulan, biar sahabat radhiyallahu anhum yg menceritakannya:

Abu Ishâq Radhiyallahu anhu berkata: “Ada seorang lelaki bertanya kepada Barâ` bin Azib : “Apakah wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti pedang?” Ia menjawab: Tidak, tetapi seperti bulan.” [al-Mukhtashar hadits no. 9]

Jâbir Radhiyallahu anhu juga berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam purnama, beliau mengenakan kain merah. Aku mulai memandang beliau dan bulan, ternyata beliau lebih indah dibandingkan bulan”. [al-Mukhtashar hadits no. 8]

3. Ketika sedang melihat bulan tsb, perhatikan jugalah sekitarnya pandangi indahnya kerlip bintang lainnya, perhatikan gurat langit disekelilingnya, dan sadarilah bumi yg sedang kita pijak ketika memandang bulan tsb adalah bagian yg teramat kecil dari kenyataan luasnya ruang semesta, sadarilah waktu perhitungan kita dibumi relatif tidak teranggap dalam dimensi waktu angkasa,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut (HR. Muhammad bin Abi Syaibah, Dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

klw engkau sekarang ini sedang galau atau bersedih sobat, maka tataplah langit itu, pejamkanlah matamu, renungkan arti hidup ini, hapus gelisah dan sempitnya kalbumu, bersemangatlah karna kegelisahan dan kesempitan hati hanya dirasakan oleh orang yg lupa hakikat keberadaannya di alam semesta ini

Berdzikirlah, pujilah Rabb Yang Maha Agung yg telah menciptakan semua ini

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran: 190-191)

Salah satu do’a yang bisa kita panjatkan

أَسْأَلُكَ لِذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

“Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu di akhirat kelak, dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. an-Nasa’i)

sahabatmu
Irwan

semoga Allah mengampuninya, kedua orangtuanya, dan seluruh kaum muslimin

sumber:

http://asysyariah.com/ruyatullah-nikmatnya-memandang-allah.html

http://almanhaj.or.id/content/3053/slash/0/ruyatullah-melihat-allah-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-dan-mutazilah/

http://abangdani.wordpress.com/2012/11/15/ciri-fisik-rasulullah-yang-sempurna/

Sabar terhadap Fitnah Wanita

Posted: 3 Januari 2013 in Penyucian Jiwa

menahan-pandangan

Salah satu kesenangan yang dijadikan indah di mata seorang lelaki adalah keelokan seorang wanita, menyukai sosok wanita adalah fitrah bagi seorang lelaki sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ali-Imran: 14

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” ( QS. Ali Imran: 14)

Namun sosok wanita sering kali menjadi fitnah bagi seorang lelaki, tak jarang kita dengar dalam sejarah kehidupan manusia lelaki gagah nan berwibawa bisa terperosok jatuh harga dirinya dan kehidupannya karena tergoda dengan wanita, ya akibat lelaki mengumbar pandangannya, menurutkan syahwatnya dan mengikuti bisikan setan di hatinya maka wanita bisa menghancurkan akalnya, kehormatannya. agamanya, dan bahkan terancam menjadi sebab terjerumusnya dia ke neraka –wal ‘iyadzubillah-

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang perkara yang dijadikan indah pada pandangan manusia dalam kehidupan dunia ini berupa berbagai macam kelezatan, dari jenis wanita, anak-anak, (dan lainnya). Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan penyebutan wanita karena fitnah yang didapatkan dari mereka amat besar, sebagaimana disebutkan di dalam hadits.” (Tafsir Ibni Katsir, 2/15)

Rasul yang mulia shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,  “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku ujian yang lebih berbahaya bagi lelaki daripada fitnah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 6880)

Maka hendaknya kita sebagai lelaki memperhatikan fitnah wanita ini, apalagi kita hidup di zaman seperti sekarang ini, di zaman dimana aurat wanita tersebar dimana-mana, berusahalah untuk selalu menjaga pandangan dan  menjauhkan diri dari sebab2 yg bisa membangkitkan syahwat baik lewat majalah2, internet, dsb, carilah kesibukan yang bermanfaat, segerakanlah menikah bagi yg sudah memiliki kemampuan dan perbanyaklah berpuasa bagi yg belum mampu menikah. Salah satu motivasi kita untuk menjaga diri menjauhi fitnah ini adalah dengan memperhatikan pelajaran2 orang2 sholih terdahulu, ambilah ibroh darinya bagaimana kuatnya iman mereka dalam menghadapi fitnah ini sehingga menempatkan mereka pada kedudukan mulia baik didunia dan terlebih-lebih diakhirat, diantaranya:

Baca entri selengkapnya »

Akan tiba masanya bagi seluruh manusia untuk menyaksikan bagaimana bumi digenggam-Nya dan langit pun akan digulung dengan tangan kanan-Nya. Moment itu terjadi pada hari kiamat dimana pada hari itulah segala amal hamba-hamba-Nya akan dibisab, dan pada hari itu pulalah Allah akan menunjukkan kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya. Nah, mari kita baca lebih seksama lagi tentang peristiwa ini yaitu ketika Allah menggenggam bumi dan menggulung langit seperti menggulung lembaran kertas berikut penjelasan tentang Arsy-Nya…

Berangkat dari firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 62 yang berbunyi:

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yg mereka persekutukan

Imam ibnu Katsir’ dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa:

Ayat ini berkenaan dengan sifat Allah kita mengimani bahwa bumi itu benar-benar digenggam dengan Tangan Allah sebagaimana yang tertulis dalam ayat tersebut dan langit itu benar-benar digulung dengan Tangan Kanan-Nya. Dan Allah menggulung langit seperti menggulung lembaran kertas sebagaimana termaktub dalam surat Al-Anbiyaa ayat 104 yang berbunyi :Yaitu pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas

Kemudian beliau melanjutkan dengan ayat berikutnya:

Allah Ta’ala berfirman , Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, maksudnya, orang-orang musyrik tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya ketika mereka menyembah Allah, mereka menyembah pula kepada yang lain-Nya . Padahal Allah adalah Maha besar yang tidak ada yang lebih besar daripada-Nya. Yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Yang memiliki segala sesuatu. Semuanya berada dibawah ketentuan dan kekuasaan-Nya. Ibnu Abbas berkata, Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, mereka adalah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada qudrat Allah atas mereka. Maka barangsiapa yang beriman bahwa Allah itu Maha Kuasa terhadap segala sesuatu, dia telah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya. Dan barangsiapa yang tidak beriman terhadap hal itu sesungguhnya dia tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya (tafsir Ibnu Katsir 4/129-130)

Banyak sekali hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat mulia ini. Diantaranya yaitu;

Baca entri selengkapnya »

Semasa duduk di bangku SD, Anda telah diajari bagaimana proses hujan bisa terjadi. Berawal dari air laut yang menguap, hingga menjadi awan, dan kemudian di bawa oleh angin hingga akhirnya turun kembali ke bumi dalam bentuk hujan. Dan mungkin pelajaran tentang proses terjadinya hujan ini, menghantarkan Anda pada satu kesimpulan, yaitu hujan adalah satu proses alami. Bukankah demikian saudaraku?

Namun sekarang, setelah dewasa dan mungkin mengenyam pendidikan tinggi, atau menjadi seorang ilmuan, dan kenyang dengan asam garam kehidupan, masihkan Anda menerima begitu saja kesimpulan di atas? Tidakkah pernah terbetik di pikiran Anda keinginan untuk merenungkan kembali kesimpulan Anda?

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاء مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tAnda-tAnda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah: 164)

Mungkin pertanyan-pertanyaan berikut sidikit membantu Anda dalam memikirkan kembali teori hujan yang telah Anda pelajari semasa duduk di bangku SD.

Mengapa air laut menguap ketika disinari oleh matahari?

Mengapa yang menguap hanya airnya saja, sedangkan kandungan garamnya tidak turut menguap.

Ketika air disinari matahari, mengapa naik ke langit dalam bentuk uap, namun ketika turun kembali turun dalam bentuk tetesan?

Dan mengapa uap air yang telah membeku di awan, ketika turun tidak pernah mengalir bak air terjun, akan tetapi sejak dahulu kala hujan turun dalam bentuk tetesan?

Mengapa ketika air hujan turun tidak turun dalam bentuk uap sebagaimana ketika terangkat ke awan?

Baca entri selengkapnya »

Bolehkah membayangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika sholat? Bagaimana cara menghadirkan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dihati agar khusyu’ dalam sholat?

Tidak boleh membayangkan (kaifiat/pembagaimanaan) tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesuatu itu bisa dibayangkan/digambarkan kalau sesuatu itu pernah dilihat atau didengar (pernah diindera), atau dia pernah melihat sesuatu yang semisal dengannya, atau pernah digambarkan kepadanya, nah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa digambarkan dalam benak, jika ketiga hal diatas tidak pernah ada, bagaimana bisa dibayangkan, jika suatu permisalan/tandingan itu tidak ada karna tidak ada tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak serupa dengan sesuatupun, maka apa yang ditimbul dalam benak tentang penggambaran Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti salah, Maha Suci Allah dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak seperti dari apa yang dibayangkan tsb, maka jika perasaan itu muncul harus kita tolak, beristighfar dan mohon perlindungan dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun penggambaran tentang pengaruh dari Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, buah dari memahami Asma dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti Allah Maha Besar maka akan menimbulkan pengaruh ketundukan baginya, Allah Asy-Syahid maka akan menimbulkan pengaruh bahwa dirinya selalu diawasi Allah, maka inilah yang dituntunkan.

Ketika sholat hendaknya kita hadirkan buah/pengaruh dari mengenal Asma dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tsb, ingatlah Kebesaran dan Keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hadirkanlah dibenak bahwa ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala itu luas, Allah Maha Mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang terluput dari pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala terus menerus mengurusi urusan makhluk-Nya, tidak pernah ngantuk atau tidur, Allah Memiliki Keagungan yang Sempurna, Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, yang rahmat-Nya begitu luas bagi alam semesta,yang memiliki 100 rahmat yang semuanya disimpan dilangit, hanya 1 yang Allah turunkan, dari yang 1 ini seluruh makhluknya saling mengasihi, dari 1 rahmat ini kita menyayangi anak dan istri kita, dari yang 1 ini induk macan tidak mencelakai atau memakan anaknya, Allah yang Menguasai Hari Pembalasan, Allah yang Memiliki balasan kebahagiaan surga yang tiada terkira dan balasan adzab yang pedih di neraka, Allah Yang Maha Tinggi, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, tidak ada makhluk lg diatas ‘Arsy, dimensi ruang-waktu berada dibawah ‘Arsy , ‘Arsy yang merupakan makhluk tertinggi, yang sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut (HR. Muhammad bin Abi Syaibah, Dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Maka dengan menyadari ini akan membuat seorang hamba tunduk hatinya akan Kebesaran dan Keagungan Allah sehingga khusyu’ dalam sholatnya, dan sebab agar khusyu’ hendaknya juga memahami dan merenungi apa yang kita baca dalam sholat, Wallahu ‘Alam

Inspirasi tulisan : ceramah dan tanya jawab dengan Ustadz Abdul-Barr di Mesjid I’thisom, Jakarta, 12-11-2011

Link Tanya jawab Ustadz Dzulqarnaen:
http://www.4/*shared.com/file/95258831/e288280/Apakah_boleh_membayangkan_dlm_.html
(http://atsarussalaf.wordpress.com/download-kajian/

Sekelumit tentang Tawakkal

Posted: 28 November 2011 in Penyucian Jiwa
Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling tinggi tawakkalnya kepada Allah, namun bersamaan dengan itu beliau juga menempuh sebab-sebab (hukum sebab-akibat), bekerja untuk mencari nafkah, menikah untuk memiliki keturunan, dsb, sesungguhnya sebab yg kita lakukan itu tidak mencederai tawakkal.

Namun jangan sampai sebab tsb menjadi sesuatu yang menyaingi ketergantungan kita kepada Allah, jangan sampai tawakkal terhadap sebab menempati posisi semestinya tawakkal kita kepada Allah.

Dalam setiap kondisi dan situasi jangan pernah kita lepaskan tawakkal kita kepada Allah, bahkan sampai jika kita menghadapi kondisi kritis sekalipun, jangan sekali-kali kita lepas, lupa dan lalaikan tawakkal kita kepada Allah meskipun kita menghadapi suatu sebab yang menurut hukum kebiasaan pasti akan membinasakan kita, Lihat bagaimana kisah Nabi Ibrahim’alaihissalam ketika beliau akan dibakar, dan api (sebab) telah siap mencelakakan beliau, namun begitu beliau tetap bertawakkal kepada Allah, tidak goyah dengan sebab (api) yang dapat membinasakannya, beliau ’alaihissalam bersandar tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, beliau ’alaihissalam mengucapkan Hasbiallahu wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah bagiku, dan Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar) akhirnya beliau selamat, begitupun dengan kisah Nabi Musa ’alaihissalam dan pasukannya, saat mereka telah terpojok ke tepi laut, sementara pasukan Fir’aun semakin mendekat mengejar mereka, sampai menimbulkan keputusasaan sebagian pasukan Nabi Musa ’alaihissalam, namun Nabi Musa ’alaihissalam tidak goyah dengan keadaan dan tetap dengan tawakkal kepada Allah dengan ucapannya sesungguhnya Rabb-ku selalu bersamaku, akhirnya beliau selamat, Allah membuat sebab-sebab kebinasaan tsb menjadi tidak berlaku.

Jadi semestinya bagi setiap hamba selalu menjaga tawakkalnya kepada Allah pada semua kondisi, bahkan sampai seandainya jika kelak dia berhadapan dengan keadaan yang menurut hukum kebiasaan dia tidak akan dapat terselamatkan olehnya, jangan goyah dengan sebab dan keadaan tsb, jangan sampai sebab dan keadaan tsb mengalahkan rasa ketergantungan kita kepada Allah, selalu tetap berserah diri dan bergantung kepada Allah, karena mudah sekali bagi Allah untuk membatalkan sebab-sebab tsb, Cukuplah Allah bagi kita dan Allah lah sebaik-baik penolong…

(Faedah dr Ustadz Ja’far Sholih di Mesjid I’thisom, Jakarta/12-11-2011)

Kiat Khusyu’ dalam Sholat !

Posted: 30 Juli 2011 in Ibadah
Tag:, ,

Sholat merupakan salah satu dari rukun islam, minimal 5 kali kita kerjakan dalam sehari-semalam, sudah berlalu banyak waktu hidup kita pun sudah berlalu sholat-sholat kita, namun tak jarang kita merasakan kekosongan makna sholat yang kita lakukan, tak jarang sholat yang kita lakukan hanya sebatas ritual harian sekedar melepas kewajiban kita, kesibukan urusan duniawi kita sering melalaikan kekhusyu’an sholat kita, padahal begitu vitalnya nilai kekhusyu’an ini, bahkan Allah menyifati orang-orang yang beriman salah satunya sebagai orang yang khusyu’ dalam sholatnya.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya. (Al-Mukminun 1-2)

Begitupun Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang yang lalai dari sholatnya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ma’un

Maka Neraka Wail bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (Al-Ma’un 4-5)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, khusyu’ dalam sholat adalah merasa tenang dalam sholat dan merasa takut (kepada Allah) dalam sholatnya tersebut.(Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh As Sa’diy rahimahullahu menerangkan makna ‘khusyu’ di dalam sholat’, yaitu seseorang menghadirkan hati di hadapan Allah, merasakan dekatnya (ilmu dan pengawasan) Allah, yang dengan semua itu hati bisa merasa tenang, jiwa merasa damai. Hal ini akan terpancar dalam gerakan tubuh yang tenang, tidak lalai dalam sholat, menghayati setiap bacaan yang dibaca dalam sholatnya, dari awal takbir hingga akhir sholat. Semua ini dalam rangka tunduk dan taat kepada Allah. (Taisir Karimirrahman)

Kemudian beliau melanjutkan, inilah hakikat ruh sholat dan inilah sholat yang dimaksudkan oleh Allah untuk ditegakkan oleh hamba-Nya. (Taisir Karimirrahman)

Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan,

Khusyu’ adalah memadamkan luapan syahwat, meredamkan gejolak di hati dan melahirkan cahaya pengagungan (kepada Allah ta’ala) di dalam hati.” (Madarijus Salikin)

Para ahli ilmu telah sepakat, bahwa letak kekhusyu’an adalah di dalam hati, dan buah dari kekhusyu’an akan tercermin pada anggota badan yang lainnya.” (Madarijus Salikin)

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk menimbulkan kekhusyu’an dalam sholat kita:

 1.      Mengetahui Keutamaan Khusyu’ dalam Sholat

 Diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: Seorang muslim yang menghadiri sholat fardhu lalu ia baguskan wudhunya, khusyu’ dan ruku’nya, melainkan itu sebagai kafarat atas dosa-dosa sebelumnya selama ia tidak melakukan dosa besar. Ini adalah untuk sepanjang masa (HR Muslim)

 2.      Bersiap-siap diri untuk menunaikan sholat

Diantaranya mengatur dan mempersiapkan waktu, menjawab adzan dan berdo’a setelahnya, bersiwak, berwudhu dengan baik, memakai pakaian yang bersih, bersegera menuju mesjid, dan berjalan dengan tenang, berdo’a diantara adzan dan iqomat, sholat sunnah tahiyatul mesjid atau sholat sunnah rawatib, merapatkan dan menyusun barisan shaff.

3.      Hindari segala hal yang menyibukkan dan mengganggu sholat

Sholatnya hendaknya dilakukan ketika tubuh kita telah siap, suasana yang baik, tempat dan keadaan yang sesuai. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sholat ketika makanan sedang dihidangkan atau dikala menahan buang air besar atau kecil, begitupun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh menunda sholat ketika cuaca sedang terik sampai cuaca sejuk kembali, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melarang sesuatu yang mengganggu konsentrasi dalam sholat baik itu berupa pakaian atau lukisan bergambar

 4.      Berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan syeithan

Setan adalah musuh nyata manusia, selalu berusaha memalingkan manusia dari keta’atan kepada Allah, begitupun syeithan akan berusaha menggangu kekhusyu’an sholat seorang hamba, untuk itu hendaknya kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan syeithan ini

 5.      Semangat dalam Melakukannya

Sholat harus dilakukan dengan semangat dan penuh perhatian, baik dalam gerakan-gerakan sholat maupun dalam membaca dzikir-dzikir didalam sholat.

Dalam Hadits yang diceritakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memasuki mesjid. Tiba-tiba beliau melihat ada dua tali yang dibentangkan antara dua tiang mesjid tersebut. Beliau lantas bertanya: “Untuk apa tali ini?” Para sahabat menjawab itu punyanya Zainab. Kalau dia lagi lemas waktu sholat, itu dijadikan tempat berpegangan.” Maka beliau bersabda yang artinya: “Lepaskan tali itu, setiap kamu itu hendaknya sholat dengan bersemangat, Kalau dia memang sedang capek, hendaknya istirahat dulu. (HR Bukhari Muslim)

 6.      Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, Menghadirkan, Mengangungkan dan Takut kepada-Nya

Orang yang khusyu’ dalam sholat adalah orang yang paling berilmu dan bertakwa kepada Allah, orang yang mengilmui kebesaran dan kekuasaan Allah yang telah meresap dalam hati sanubarinya serta merealisasikannya dalam segala aktivitas hidupnya, yakni merekalah yang sholat dengan penuh ketundukan kepada Allah dan besarnya rasa takut mereka kepada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 (orang-orang yang khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al-Baqarah: 46)

 Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah). (Al-Fathir:28)

7.      Hendaknya Orang yang Sholat Menyadari bahwa sholat yang sedang dilakukannya merupakan perjumpaan dan komunikasinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Apabila seorang diantaramu sedang sholat, sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi kepada Allah … (HR. Bukhari-Muslim)

Imam Nawawi berkata sabda beliau “sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi kepada Allah” merupakan isyarat akan pentingnya keikhlasan hati, kehadirannya (dalam shalat) dan pengosongannya selain dari berdzikir kepada Allah …” (Syarhu Shahih Muslim)

8.      Merasakan dan Menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memperhatikan dan mengawasinya dan hadirkan perasaan bagaimana kelak diakhirat ketika kita akan berdiri di depan Allah dan diajak bicara langsung oleh Allah tanpa perantara sesuatu apapun

Orang yang sedang sholatnya hendaknya menyadari bahwa dia sedang menghadap kepada Rabb Yang Maha Mengawasi segala sesuatu yang tidak ada sesuatupun yang terluput darinya, dan rasakan bagaimana kedahsyatan suasana kelak dihari kiamat ketika setiap orang akan berdiri di depan Allah tanpa perantara sesuatu apapun.

Maka hendaknya dengan menyadari akan hal ini seseorang akan terpacu dirinya untuk khusyu’.

Baca entri selengkapnya »

Umar bin Khatab pernah berkata, “Wahai sekalian manusia, andaikata ada yg menyeru dari langit, ‘wahai sekalian manusia, sesunguhnya kalian semua masuk Surga kecuali satu orang’ Saya takut satu orang itu adalah saya.”

Lihat bagaimana rasa takut para ulama As Salaf. Dan suatu hari Al Hasan Al Bashri pernah menangis, maka ditanya kepada beliau, “Apa yg membuatmu menangis wahai Abu Said?” Beliau menjawab, “Saya takut Allah Subhanahu wata’ala akan melemparkan saya besok di api Neraka dan Allah Subhanahu wata’ala tidak memperhatikannya.”

Dan berkata Yazid bin Kholsyan, “Demi Allah! Saya tidak penah melihat org yang lebih takut dari Al Hasan Al Bashri dan Umar bin Abdul Aziz seakan Neraka diciptakan untuk mereka berdua saja. Sehingga merek senantiasa merasa takut darinya.”

Dan sebagian ulama As Salaf apabila mereka melihat api di dunia ini maka berubahlah warna mukanya dan gemetarlah ia dan berubah keadaanya dan ia melihat firman Allah Subhanahu wata’ala,

أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُون.َ أَأَنْتُمْ أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُون.َ نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ. فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

“Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.” (Al Waqi’ah: 71-74)

Berkata Imam Mujahid, “Sesungguhnya Neraka dunia akan mengingatkan Neraka akhirat. Kalau seorang melihat Neraka dunia maka ia akan ingat Neraka akhirat ini yg disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala, “Kami jadikan api itu untuk peringatan”.

Dan berkata Al Hasan Al Bashri, “umar bin khattab kadang dihidupkan untuk beliau api pada suatu malam, kemudian Umar mendekati api tersebut dan mendekatkan tangannya ke api tersebut kemudian Umar berkata, “Wahai Ibnu Khattab, apakah kamu mampu bersabar di atas api ini?”

Bahkan di kalangan ulama As Salaf ada yang tidak bisa tidur karena takutnya dari api Neraka.

Berkata Hasan Al Bashri, “Syaddad bin auf apabila naik ke tempat tidurnya ia berada di atasanya seakan-akan kacang yg berada di atas penggorengan dan ia berkata, ‘Yaa Allah! Sesungguhnya mengingat Neraka Jahannam membuat saya tidak bisa tidur’ maka iapun berdiri kemudian sholatlah.”

Dan berkata Taulus bin Kaisan, “Dan beliau kadang tidur di atas tempat tidurnya dan berbaring dan berbalik seperti berbaliknya kacang di atas gorengan kemudian beliau bangkit melompat lalu menghadap kiblat sampai di waktu shubuh kemudian beliau berkata, ‘Sesunggunya ingat akan api Neraka telah mengubah tidurnya orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Dan berkata Malik bin Dinar, “Putri Ar Robi’ bin Husain berkata kepada ayahnya, ‘wahai ayahku kenapa engkau tidak tidur dan manusia dalam keadaan tidur?’ Maka ia berkata kepada putrinya, ‘Wahai putriku, sesungguhnya api Neraka tidak membiarkan ayahmu tidur.”

Dan biasa para ulama As Salaf ada yg takutnya dari api Neraka menimbulkan padanya penyakit yang kadang dilihat di antara manusia karena kurusnya seakan-akan dia sakit padahal tidak ada penyakit pada dirinya.

Demikian rasa takutnya para ulama dan telah kita sampaikan ayat-ayat Al Quran dan hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang menunjukkan tentang mulianya takut kepada api Neraka dan mulianya orang-orang yang menangis karena takutnya akan siksaan api Neraka.

By: Al-Ustadz Al-Fadhil Dzulqarnaen Ibn Muhammad Sunusi

*Dengarkan ceramah kajiannya secara lengkap (bagus) disini

Baca transkrip disini

Catatan Ringkas Puasa Ramadhan

Bulan Ramadhan tak lama lagi kan menyapa, sudah sepantasnya kita mengetahui hal-hal terkait syari’at yang agung ini, Berikut beberapa hal yang hendaknya kita ketahui dalam menyambut bulan yang mulia ini:

Pengertian Puasa

Puasa dalam bahasa  Arab disebut dengan “ shaum”. Shaum secara bahasa bermakna imsak (menahan diri) dari makan, minum, berbicara, nikah dan berjalan. Sedangkan secara istilah shaum bermakna menahan diri dari segala pembatal dengan tata cara yang khusus.

 Manfaat Puasa 

  1. Puasa sebagai bentuk pendekatan,ketundukan, dan peribadahan kita kepada Allah
  2. Puasa adalah peredam syahwat
  3. Puasa melatih kita mengontrol diri dan mengendalikan hawa-nafsu
  4. Puasa membentuk akhlak mulia, seperti: Jujur, Muroqobah (rasa selalu berada dalam pengawasan Allah), Ikhlas, dan Sabar, Santun, Dermawan, Murah hati, dan pengerahan jiwa untuk mengerjakan segala hal yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala dan dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
  5. Puasa juga sebagai momentum pembersihan, penggemblengan dan pensucian jiwa dari akhlak tercela dan sifat-sifat buruk, seperti tamak, rakus dan kikir.

Keutamaan Bulan Ramadhan

  1. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an
  2. Dalam Bulan Ramadhan terdapat Lailatul-Qadr (malam yang lebih utama dari 1000 bulan)
  3. Pada Bulan Ramadhan, syaithan-syaithan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu syurga dibuka

Keutamaan Berpuasa di bulan Ramadhan

  1. Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi (disisi Allah) dari wangi misk/kesturi
  2. Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan (ketika berbuka dan ketika kelak bertemu Allah)
  3. Sebab dikabulkannya do’a kita (saat yang mustajab dalam berdo’a)
  4. Mengampuni seluruh dosa kita yang telah berlalu
  5. Menjauhkan kita dari api neraka
  6. Puasa adalah perisai/benteng kita dari neraka
  7. Kita akan memperoleh pahala yang tidak terbatas
  8. Kita akan digolongkan sebagai Shiddiqin dan Syuhada’
  9. Puasa akan memberi syafa’at bagi kita kelak di hari kiamat
  10. Puasa salah satu pintu surganya (Rayyan) Allah

Tujuan Berpuasa di bulan Ramadhan

Agar kita menjadi orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah

Hukum Puasa di Bulan Ramadhan

Berpuasa di Bulan Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim (baik laki-laki maupun perempuan)  yang telah memenuhi syarat wajib puasa. Dan meninggalkan puasa di bulan ramadhan tanpa udzur (sebab yang dibenarkan) termasuk dosa besar yang diancam dengan siksa neraka yang pedih dan orang ini diragukan keimanannya serta dianggap sebagai orang yang munafik.

Syarat Wajib dan Rukun Puasa

Syarat Wajib Puasa:

a. Islam
b. Baligh (Dewasa)
c. Berakal Sehat
d. Mukim
e. Berkesanggupan Puasa
f. Tidak dalam Keadaan Haid dan Nifas

Rukun Puasa:

  1. Niat
  2. Meninggalkan Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Baca entri selengkapnya »