Sekelumit tentang Tawakkal

Posted: 28 November 2011 in Penyucian Jiwa
Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling tinggi tawakkalnya kepada Allah, namun bersamaan dengan itu beliau juga menempuh sebab-sebab (hukum sebab-akibat), bekerja untuk mencari nafkah, menikah untuk memiliki keturunan, dsb, sesungguhnya sebab yg kita lakukan itu tidak mencederai tawakkal.

Namun jangan sampai sebab tsb menjadi sesuatu yang menyaingi ketergantungan kita kepada Allah, jangan sampai tawakkal terhadap sebab menempati posisi semestinya tawakkal kita kepada Allah.

Dalam setiap kondisi dan situasi jangan pernah kita lepaskan tawakkal kita kepada Allah, bahkan sampai jika kita menghadapi kondisi kritis sekalipun, jangan sekali-kali kita lepas, lupa dan lalaikan tawakkal kita kepada Allah meskipun kita menghadapi suatu sebab yang menurut hukum kebiasaan pasti akan membinasakan kita, Lihat bagaimana kisah Nabi Ibrahim’alaihissalam ketika beliau akan dibakar, dan api (sebab) telah siap mencelakakan beliau, namun begitu beliau tetap bertawakkal kepada Allah, tidak goyah dengan sebab (api) yang dapat membinasakannya, beliau ’alaihissalam bersandar tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, beliau ’alaihissalam mengucapkan Hasbiallahu wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah bagiku, dan Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar) akhirnya beliau selamat, begitupun dengan kisah Nabi Musa ’alaihissalam dan pasukannya, saat mereka telah terpojok ke tepi laut, sementara pasukan Fir’aun semakin mendekat mengejar mereka, sampai menimbulkan keputusasaan sebagian pasukan Nabi Musa ’alaihissalam, namun Nabi Musa ’alaihissalam tidak goyah dengan keadaan dan tetap dengan tawakkal kepada Allah dengan ucapannya sesungguhnya Rabb-ku selalu bersamaku, akhirnya beliau selamat, Allah membuat sebab-sebab kebinasaan tsb menjadi tidak berlaku.

Jadi semestinya bagi setiap hamba selalu menjaga tawakkalnya kepada Allah pada semua kondisi, bahkan sampai seandainya jika kelak dia berhadapan dengan keadaan yang menurut hukum kebiasaan dia tidak akan dapat terselamatkan olehnya, jangan goyah dengan sebab dan keadaan tsb, jangan sampai sebab dan keadaan tsb mengalahkan rasa ketergantungan kita kepada Allah, selalu tetap berserah diri dan bergantung kepada Allah, karena mudah sekali bagi Allah untuk membatalkan sebab-sebab tsb, Cukuplah Allah bagi kita dan Allah lah sebaik-baik penolong…

(Faedah dr Ustadz Ja’far Sholih di Mesjid I’thisom, Jakarta/12-11-2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s