Sabar terhadap Fitnah Wanita

Posted: 3 Januari 2013 in Penyucian Jiwa

menahan-pandangan

Salah satu kesenangan yang dijadikan indah di mata seorang lelaki adalah keelokan seorang wanita, menyukai sosok wanita adalah fitrah bagi seorang lelaki sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ali-Imran: 14

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” ( QS. Ali Imran: 14)

Namun sosok wanita sering kali menjadi fitnah bagi seorang lelaki, tak jarang kita dengar dalam sejarah kehidupan manusia lelaki gagah nan berwibawa bisa terperosok jatuh harga dirinya dan kehidupannya karena tergoda dengan wanita, ya akibat lelaki mengumbar pandangannya, menurutkan syahwatnya dan mengikuti bisikan setan di hatinya maka wanita bisa menghancurkan akalnya, kehormatannya. agamanya, dan bahkan terancam menjadi sebab terjerumusnya dia ke neraka –wal ‘iyadzubillah-

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang perkara yang dijadikan indah pada pandangan manusia dalam kehidupan dunia ini berupa berbagai macam kelezatan, dari jenis wanita, anak-anak, (dan lainnya). Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan penyebutan wanita karena fitnah yang didapatkan dari mereka amat besar, sebagaimana disebutkan di dalam hadits.” (Tafsir Ibni Katsir, 2/15)

Rasul yang mulia shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,  “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku ujian yang lebih berbahaya bagi lelaki daripada fitnah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 6880)

Maka hendaknya kita sebagai lelaki memperhatikan fitnah wanita ini, apalagi kita hidup di zaman seperti sekarang ini, di zaman dimana aurat wanita tersebar dimana-mana, berusahalah untuk selalu menjaga pandangan dan  menjauhkan diri dari sebab2 yg bisa membangkitkan syahwat baik lewat majalah2, internet, dsb, carilah kesibukan yang bermanfaat, segerakanlah menikah bagi yg sudah memiliki kemampuan dan perbanyaklah berpuasa bagi yg belum mampu menikah. Salah satu motivasi kita untuk menjaga diri menjauhi fitnah ini adalah dengan memperhatikan pelajaran2 orang2 sholih terdahulu, ambilah ibroh darinya bagaimana kuatnya iman mereka dalam menghadapi fitnah ini sehingga menempatkan mereka pada kedudukan mulia baik didunia dan terlebih-lebih diakhirat, diantaranya:

1. “Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.”

Kelak di akhirat setelah dibangkitkan dari kubur semua orang akan dikumpulkan di padang mahsyar, di hari yang sangat mencekam dan semua orang diliputi kecemasan yg luar biasa, di hari dimana matahari didekatkan di kepala dan orang2 basah dengan keringatnya sesuai dengan amal mereka di dunia, ada yg keringatnya se matakakinya, selututnya, sepinggangnya bahkan keringat tsb menenggelamkannya –wal ‘iyadzubillah- hari yg benar2 panas luar biasa, namun di hari tsb ada 7 golongan yg Allah naungi di hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya, salah satu dari mereka adalah “Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.”

sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
a.    Pemimpin yang adil.
b.    Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.
c.    Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.
d.    Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah.
e.    Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.
f.    Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
g.    Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”
(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)

2. Kisah 3 orang yg terkurung dalam gua

Peristiwa ini terjadi pada zaman Bani Israil ketika ada tiga orang sedang berjalan, mereka ditimpa oleh hujan. Lalu mereka pun berlindung ke dalam sebuah gua di sebuah gunung. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung itu lalu menutupi mulut gua mereka. Lalu sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Perhatikan amalan shalih yang pernah kamu kerjakan karena Allah, lalu berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan amalan itu. Mudah-mudahan Allah menyingkirkan batu itu dari kalian.”

dan orang kedua  tsb bertawassul dengan amal sholihnya: “Sesungguhnya aku punya sepupu wanita yang aku cintai, sebagaimana layaknya cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita. Aku minta dirinya (melayaniku), tapi dia menolak sampai aku datang kepadanya (menawarkan) seratus dinar. Aku pun semakin payah, akhirnya aku kumpulkan seratus dinar, lalu menyerahkannya kepada gadis itu. Setelah aku berada di antara kedua kakinya, dia berkata: ‘Wahai hamba Allah. Bertakwalah kepada Allah. Jangan engkau buka tutup (kiasan untuk keperawanannya) kecuali dengan haknya.’ Maka aku pun berdiri meninggalkannya. Kalau Engkau tahu, aku melakukannya adalah karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami satu celah dari batu ini.”

lihatlah bagaimana Allah menolong mereka salah satu sebabnya takwanya pemuda ini  pd Allah dalam meninggalkan perbuatan zina yg sudah di depan matanya, sebagaimana diceritakan kisah ini dalam hadit shohih muttafaq ‘alaihi

3. Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan wanita pembesar kerajaan

Ambillah ibroh dari perjuangan yg mengagumkan dari Nabi Yusuf  ‘alaihissalam ketika dirinya digoda oleh seorang wanita pembesar kerajaan (Zulaikha), Dan zulaikha  terus menggoda Nabi Yusuf  ‘alaihissallam untuk berzina dengannya, dia menutup pintu2 dan mengajak Yusuf  ‘alaihissallam untuk melakukan perbuatan keji itu, sesungguhnya godaan wanita yang dialami Nabi Yusuf  ‘alaihissallam adalah cobaan paling besar yang beliau hadapi dalam hidup beliau. Hal itu karena banyaknya faktor yang mendukung untuk terjadinya kekejian antara seorang laki-laki dengan perempuan. Padahal satu saja dari beberapa faktor tersebut sudah cukup untuk menjerumuskan sepasang pria dan wanita ke dalam kehinaan tersebut. Sementara faktor yang ada di sekitar Nabi Yusuf ‘alaihissallam dan istri pembesar itu sendiri justru sangat banyak.

Perhatikanlah pada saat tsb merupakan keadaan dimana hampir semua faktor2 mendukung terjadinya perzinahan,  yakni:

a. Naluri laki-laki yang suka kepada wanita, seperti orang yang sedang kehausan membutuhkan air dan orang kelaparan yang ingin makan. Bahkan kebanyakan laki-laki, mampu bersabar untuk tidak makan dan minum, tetapi tidak sabar dari kaum wanita. Namun, naluri ini tidaklah tercela, apabila diletakkan pada tempat yang halal, bahkan dipuji.

b. Kondisi Nabi Yusuf ‘alaihissallam sebagai seorang pemuda gagah yang rupawan, sedangkan syahwat seorang pemuda sangat kuat.

c. Keadaan beliau yang masih jejaka, belum pernah menikah, dan tidak pula mempunyai budak perempuan untuk menyalurkan hasratnya.

d. Beliau berada di negeri asing, yang memungkinkan seseorang yang jauh dari negeri asalnya melampiaskan sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya di tanah kelahirannya, di antara sanak keluarganya dan orang-orang yang mengenalnya.

e. Wanita yang merayunya itu memiliki kedudukan dan kecantikan. Padahal salah satunya saja, sudah cukup mengundang laki-laki untuk menggaulinya.

f. Wanita itu tidak mencegah dan menolak. Biasanya, banyak laki-laki yang padam keinginannya karena ada penolakan dan ketidaksukaan dari si wanita, karena dia merasa hina dan tunduk serta mengemis kepada wanita itu. Meski banyak pula dengan adanya ketidaksukaan dan penolakan dari wanita itu justru semakin menambah syahwat dan keinginannya. Seperti diungkapkan:

Semakin besar cintaku kalau aku dihalangi

Yang paling dicintai seseorang adalah apa yang terhalang

g. Wanita itu meminta, menginginkan, dan membujuk serta mengusahakan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Nabi Yusuf ‘alaihissallam tidak demikian. Beliau justru dalam keadaan mulia serta diharapkan.

h. Nabi Yusuf ‘alaihissallam tinggal di rumah wanita itu, di bawah kekuasaannya dan ada kekhawatiran akan disiksa bila tidak menuruti kemauannya. Sehingga terkumpullah pada beliau dorongan keinginan sekaligus adanya rasa takut.

i. Beliau tidak khawatir wanita itu akan menceritakan perbuatannya, bahkan tidak satu pun dari pihak wanita itu, sebab wanita itulah yang memiliki keinginan dan tuntutan. Bahkan dia telah mengunci semua pintu, serta pengawas pun tidak ada.

j. Secara lahiriah Nabi Yusuf ‘alaihissallam adalah budak yang dimiliki oleh wanita itu. Beliau keluar-masuk rumah bersama wanita itu, tak seorang pun mengingkarinya. Apalagi kedekatan serta kebersamaan adalah awal sebuah keinginan, dan ini termasuk pendorong yang sangat kuat.

Sebagaimana pernah ditanyakan kepada seorang wanita Arab bangsawan, mengapa dia berzina? Kata wanita itu: “Dekatnya jarak dan panjangnya malam.” Artinya, karena dekatnya laki-laki itu kepadaku dan panjangnya malam yang kami lalui.

k. Wanita itu mengancam Nabi Yusuf ‘alaihissallam akan dipenjarakan dan dihinakan. Ini termasuk pemaksaan. Karena hal tersebut adalah ancaman dari orang yang besar kemungkinannya melaksanakan ancaman tersebut, sehingga menyatu dalam diri Nabi Yusuf ‘alaihissallam dorongan syahwat dan keinginan selamat dari penjara serta kehinaan.

l. Suami wanita itu tidak menampakkan rasa cemburu dan kejantanan yang mendorongnya memisahkan wanita itu dan Nabi Yusuf ‘alaihissallam. Bahkan perkataannya yang paling tinggi ditujukan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissallam hanyalah sebagaimana dalam firman Allah Subahanahu wa Ta’ala:

“Berpalinglah dari ini.” (QS. Yusuf : 29)

Sedangkan kepada istrinya dia mengatakan sebagaimana dalam ayat:

“Dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (QS. Yusuf: 29)

Padahal, besarnya kecemburuan seorang suami termasuk penghalang paling besar terjadinya penyelewengan seorang istri, namun ternyata hal itu tidak terlihat dari suami wanita tersebut.

Akan tetapi, dengan segala faktor pendorong ini, ternyata Nabi Yusuf ‘alaihissallam lebih mengutamakan keridhaan Allah dan rasa takut kepada-Nya. Cintanya kepada Allah mendorong beliau untuk memilih penjara daripada zina. Allah berfirman:

Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (QS. Yusuf: 33)

Perhatikanlah bagaimana kesabaran Nabi Yusuf ‘alaihissallam  dalam menjaga kehormatannya, menahan syahwatnya, dan rasa takutnya pd Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagaimana seandainya kita yg mengalami keadaan tsb bisakah kita sabar thdnya?

 4. Kisah ‘Atha’ bin Yasar rahimahullah

Pernah pula di kalangan tabi’in yang mengalami ujian seperti ini. ‘Atha’ bin Yasar, saudara Sulaiman bin Yasar. Dalam riwayat hidup beliau, diceritakan: Suatu hari dia berangkat dari Madinah bersama saudaranya Sulaiman dan beberapa sahabat mereka. Kemudian mereka singgah di Abwa’ dan membuat kemah. Di daerah itu ada seorang wanita badui yang cantik jelita yang ingin menimbulkan fitnah pada ‘Atha’ bin Yasar. Maka masuklah wanita itu ke dalam tenda di saat ‘Atha’ tinggal sendirian. Ketika itu beliau sedang shalat, maka beliau pun mempercepatnya karena mengira wanita itu sedang dalam keperluan.

Setelah itu beliau bertanya kepada wanita itu: “Engkau ada keperluan?”
“Ya,” kata wanita itu.
“Apa itu?”tanya ‘Atha’.
“Bangun dan gauli saya. Saya tidak bersuami,” jawab wanita itu.
“Pergilah dari sini. Jangan kau bakar aku dan dirimu dengan api neraka,” kata ‘Atha’. Lalu mulailah beliau menangis sampai tersedu-sedu.

Melihat ‘Atha’ menangis, wanita itu tersentuh, lalu ikut pula menangis mendengar nasihat yang diucapkan ‘Atha’ tadi. Akhirnya wanita itu pun duduk menangis. Dua orang laki-laki dan perempuan itu menangis hebat. Kemudian datanglah Sulaiman bin Yasar dan melihat dua orang ini sedang menangis. Dia tidak tahu apa yang tadi terjadi. Tapi jiwanya ikut terdorong untuk menangis menyaksikan keadaan mereka berdua. Tak lama datang pula sahabat mereka lalu masuk ke dalam tenda. Mereka melihat ada seorang wanita menangis bersama ‘Atha’ dan Sulaiman yang juga menangis. Mereka pun terpengaruh, lalu ikut menangis tanpa tahu ada kejadian apa sebelum ini.

Akhirnya, semua terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Setelah tenang, wanita itu bangkit dan pergi. Kemudian yang lain pun berdiri dan beranjak dari tempat itu. Semuanya pergi ke tempat tidurnya. Sementara Sulaiman merasa segan bertanya kepada saudaranya ada yang terjadi?Hari-hari berlalu. Suatu ketika mereka safar ke Mesir.

Pada malam harinya, di sebuah kamar, ‘Atha’ terbangun sambil menangis. Mendengar isak tangis saudaranya, Sulaiman tergugah dari tidurnya. Beliau bertanya kepada ‘Atha’: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?

Tangis ‘Atha’ semakin keras. Sulaiman kembali bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?” “Mimpi yang baru saja kulihat malam ini,” kata ‘Atha’.
“Mimpi apa?” tanya Sulaiman. Lalu beliau terus mendesak agar ‘Atha’ menceritakannya. Maka ‘Atha’ meminta kesepakatan dan janji saudaranya untuk tidak menceritakannya selama dia masih hidup. Kata ‘Atha’: “Aku melihat Nabi Yusuf  ‘alaihissalam dalam mimpiku. Mulailah aku memandang beliau. Ketika aku melihat eloknya rupa beliau, aku menangis –dalam mimpi–. Beliau pun memandangku dan berkata: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai fulan?’
Aku berkata: ‘Demi bapak dan ibuku tebusanmu, wahai Nabi Allah. Aku teringat engkau dan istri pembesar itu serta ujian yang engkau alami dengannya. Penjara yang engkau rasakan, perpisahanmu dengan Nabi Ya’qub ‘alaihisallam, maka aku pun menangis karenanya’.”
Aku merasa takjub kepada beliau.

Beliau pun berkata: ‘Akulah yang mestinya takjub dengan lawan wanita badui di Abwa’ itu?’ Aku tahu apa yang beliau maksud, maka aku pun menangis dan terbangun sambil terus menangis. Kemudian ‘Atha’ t menceritakan pula kisahnya dengan wanita badui di Abwa.
Kisah ini disimpan oleh Sulaiman bin Yasar sampai ‘Atha’ meninggal dunia. Setelah ‘Atha’ meninggal dunia, dia pun menceritakan kisah ini hingga menjadi terkenal di Madinah.
Sulaiman bin Yasar sendiri adalah seorang yang gagah dan rupawan. Suatu hari, seorang wanita masuk ke dalam rumahnya dan merayunya agar menggauli dirinya. Tapi Sulaiman menolak. Wanita itu berkata kepadanya: “Kalau begitu aku akan mempermalukanmu.”

Akhirnya, Sulaiman melarikan diri keluar dari rumahnya, dia biarkan rumah itu untuk si wanita.

5. Kisah Abu Bakr Al-Miski rahimahullah

Lain lagi dengan Abu Bakr Al-Miski. Dia digelari Al-Miski (berbau misik/minyak wangi) karena sebuah kejadian. Ada seorang wanita meminta agar Abu Bakr masuk ke dalam rumahnya. Abu Bakr adalah seorang pedagang. Maka beliau pun masuk. Ternyata wanita itu menginginkan perbuatan yang haram. Untuk itu, dia (wanita tersebut) tutup pintu rumahnya. Lalu apa yang dilakukan Abu Bakr?

Dia bekata: “Saya ingin ke kamar kecil.” Kemudian di dalam kamar mandi (WC) dia melaburi tubuhnya dengan kotoran dan keluar dari kamar mandi. Wanita itu menjauh darinya lalu membuka pintu rumahnya, akhirnya Abu Bakr pun keluar meninggalkan wanita itu. Sejak saat itulah tubuhnya berbau misik (meskipun tidak menggunakan minyak wangi). Wallahu a’lam.

So sahabat misalnya jika suatu saat kita mengalami keadaan dimana kita dihadapkan pd fitnah wanita, dan merasa kesulitan dengannya maka sabarlah, tingkatkanlah takwa kita, takutlah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ingat2lah ibroh diatas, hadirkanlah dihati besarnya balasan bagi org 2 yg menjaga dirinya dr fitnah wanita, sadarilah balasan naungan Allah kelak di mahsyar di hari dimana kita sangat butuh akan naungan di tengah panasnya hari itu dan tidak ada naungan selain naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ambillah pelajaran dari orang2 sholih terdahulu bagaimana takwa dan rasa takut mereka pd Allah ketika fitnah wanita mendatanginya sehingga membuat mereka pada kedudukan mulia di dunia dan akhirat.

semoga bermanfaat…

sahabatmu

Irwan

semoga Allah mengampuni dosa2nya, kedua orangtuanya dan seluruh kaum muslimin

sumber:

http://asysyariah.com/nabi-yusuf-dan-istri-pembesar-bagian-1.html

http://asysyariah.com/nabi-yusuf-dan-istri-pembesar-bagian-2-sebuah-renungan.html

http://al-atsariyyah.com/7-golongan-yang-allah-naungi-di-hari-kiamat.html

http://asysyariah.com/kisah-orang-orang-yang-terkurung-didalam-gua.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s