Kiat Khusyu’ dalam Sholat !

Posted: 30 Juli 2011 in Ibadah
Tag:, ,

Sholat merupakan salah satu dari rukun islam, minimal 5 kali kita kerjakan dalam sehari-semalam, sudah berlalu banyak waktu hidup kita pun sudah berlalu sholat-sholat kita, namun tak jarang kita merasakan kekosongan makna sholat yang kita lakukan, tak jarang sholat yang kita lakukan hanya sebatas ritual harian sekedar melepas kewajiban kita, kesibukan urusan duniawi kita sering melalaikan kekhusyu’an sholat kita, padahal begitu vitalnya nilai kekhusyu’an ini, bahkan Allah menyifati orang-orang yang beriman salah satunya sebagai orang yang khusyu’ dalam sholatnya.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya. (Al-Mukminun 1-2)

Begitupun Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang yang lalai dari sholatnya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ma’un

Maka Neraka Wail bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (Al-Ma’un 4-5)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, khusyu’ dalam sholat adalah merasa tenang dalam sholat dan merasa takut (kepada Allah) dalam sholatnya tersebut.(Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh As Sa’diy rahimahullahu menerangkan makna ‘khusyu’ di dalam sholat’, yaitu seseorang menghadirkan hati di hadapan Allah, merasakan dekatnya (ilmu dan pengawasan) Allah, yang dengan semua itu hati bisa merasa tenang, jiwa merasa damai. Hal ini akan terpancar dalam gerakan tubuh yang tenang, tidak lalai dalam sholat, menghayati setiap bacaan yang dibaca dalam sholatnya, dari awal takbir hingga akhir sholat. Semua ini dalam rangka tunduk dan taat kepada Allah. (Taisir Karimirrahman)

Kemudian beliau melanjutkan, inilah hakikat ruh sholat dan inilah sholat yang dimaksudkan oleh Allah untuk ditegakkan oleh hamba-Nya. (Taisir Karimirrahman)

Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan,

Khusyu’ adalah memadamkan luapan syahwat, meredamkan gejolak di hati dan melahirkan cahaya pengagungan (kepada Allah ta’ala) di dalam hati.” (Madarijus Salikin)

Para ahli ilmu telah sepakat, bahwa letak kekhusyu’an adalah di dalam hati, dan buah dari kekhusyu’an akan tercermin pada anggota badan yang lainnya.” (Madarijus Salikin)

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk menimbulkan kekhusyu’an dalam sholat kita:

 1.      Mengetahui Keutamaan Khusyu’ dalam Sholat

 Diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: Seorang muslim yang menghadiri sholat fardhu lalu ia baguskan wudhunya, khusyu’ dan ruku’nya, melainkan itu sebagai kafarat atas dosa-dosa sebelumnya selama ia tidak melakukan dosa besar. Ini adalah untuk sepanjang masa (HR Muslim)

 2.      Bersiap-siap diri untuk menunaikan sholat

Diantaranya mengatur dan mempersiapkan waktu, menjawab adzan dan berdo’a setelahnya, bersiwak, berwudhu dengan baik, memakai pakaian yang bersih, bersegera menuju mesjid, dan berjalan dengan tenang, berdo’a diantara adzan dan iqomat, sholat sunnah tahiyatul mesjid atau sholat sunnah rawatib, merapatkan dan menyusun barisan shaff.

3.      Hindari segala hal yang menyibukkan dan mengganggu sholat

Sholatnya hendaknya dilakukan ketika tubuh kita telah siap, suasana yang baik, tempat dan keadaan yang sesuai. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sholat ketika makanan sedang dihidangkan atau dikala menahan buang air besar atau kecil, begitupun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh menunda sholat ketika cuaca sedang terik sampai cuaca sejuk kembali, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melarang sesuatu yang mengganggu konsentrasi dalam sholat baik itu berupa pakaian atau lukisan bergambar

 4.      Berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan syeithan

Setan adalah musuh nyata manusia, selalu berusaha memalingkan manusia dari keta’atan kepada Allah, begitupun syeithan akan berusaha menggangu kekhusyu’an sholat seorang hamba, untuk itu hendaknya kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan syeithan ini

 5.      Semangat dalam Melakukannya

Sholat harus dilakukan dengan semangat dan penuh perhatian, baik dalam gerakan-gerakan sholat maupun dalam membaca dzikir-dzikir didalam sholat.

Dalam Hadits yang diceritakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memasuki mesjid. Tiba-tiba beliau melihat ada dua tali yang dibentangkan antara dua tiang mesjid tersebut. Beliau lantas bertanya: “Untuk apa tali ini?” Para sahabat menjawab itu punyanya Zainab. Kalau dia lagi lemas waktu sholat, itu dijadikan tempat berpegangan.” Maka beliau bersabda yang artinya: “Lepaskan tali itu, setiap kamu itu hendaknya sholat dengan bersemangat, Kalau dia memang sedang capek, hendaknya istirahat dulu. (HR Bukhari Muslim)

 6.      Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, Menghadirkan, Mengangungkan dan Takut kepada-Nya

Orang yang khusyu’ dalam sholat adalah orang yang paling berilmu dan bertakwa kepada Allah, orang yang mengilmui kebesaran dan kekuasaan Allah yang telah meresap dalam hati sanubarinya serta merealisasikannya dalam segala aktivitas hidupnya, yakni merekalah yang sholat dengan penuh ketundukan kepada Allah dan besarnya rasa takut mereka kepada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 (orang-orang yang khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al-Baqarah: 46)

 Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah). (Al-Fathir:28)

7.      Hendaknya Orang yang Sholat Menyadari bahwa sholat yang sedang dilakukannya merupakan perjumpaan dan komunikasinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Apabila seorang diantaramu sedang sholat, sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi kepada Allah … (HR. Bukhari-Muslim)

Imam Nawawi berkata sabda beliau “sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi kepada Allah” merupakan isyarat akan pentingnya keikhlasan hati, kehadirannya (dalam shalat) dan pengosongannya selain dari berdzikir kepada Allah …” (Syarhu Shahih Muslim)

8.      Merasakan dan Menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memperhatikan dan mengawasinya dan hadirkan perasaan bagaimana kelak diakhirat ketika kita akan berdiri di depan Allah dan diajak bicara langsung oleh Allah tanpa perantara sesuatu apapun

Orang yang sedang sholatnya hendaknya menyadari bahwa dia sedang menghadap kepada Rabb Yang Maha Mengawasi segala sesuatu yang tidak ada sesuatupun yang terluput darinya, dan rasakan bagaimana kedahsyatan suasana kelak dihari kiamat ketika setiap orang akan berdiri di depan Allah tanpa perantara sesuatu apapun.

Maka hendaknya dengan menyadari akan hal ini seseorang akan terpacu dirinya untuk khusyu’.

9.      Memelihara Thuma’ninah (Ketenangan) dan tidak terburu-buru dalam sholat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu…  (An-Nisaa’ : 103)

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa ketenangan merupakan syarat vital dalam melakukan sholat, begitupun sholat bagi orang-orang mukmin ketika berperang dengan orang-orang kafir dilakukan setelah tenang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menyuruh orang yang asal-asalan dalam sholat untuk mengulang kembali solatnya

 10. Hendaknya kita sholat seperti sholatnya orang yang akan bepergian jauh meninggalkan alam fana ini

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menegaskan:

“Apabila engkau melakukan sholat, maka sholatlah kamu, dengan sholatnya orang yang akan meninggalkan alam fana…” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Hadits Hasan)

Yang dimaksud, agar kita sholat dengan sholatnya orang yang rindu untuk berjumpa Allah, bukan sholatnya orang yang gila dunia, yang menjadikan dunia dan segala kesibukannya sebagai bayangan yang selalu terukir dalam benak

11. Merasakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawabnya ketika sholat

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

Aku membagi shalat untuk-Ku dan hamba-Ku dalam dua bagian, dan hamba-Ku akan mendapat apa yang dimintanya. Jika hamba-Ku mengucapkan: Alhamdulillahi rabbil ‘alamien (segala puji bagi Allah penguasa jagat raya), Ku-jawab: “hamidani ‘abdi” (hamba-Ku memuji-Ku).

Jika hamba-Ku megatakan: “Arrahmanirrahim” (Yang Maha pengasih lagi penyayang), Ku-jawab: “Atsna ‘alayya ‘abdi” (hamba-Ku memujiku lagi).

Jika hamba-Ku mengatakan: “Maaliki yaumiddien” (Penguasa di hari pembalasan), Ku-jawab: “Majjadani ‘abdi” (hamba-Ku menyanjung-Ku).

Jika hamba-Ku mengatakan: “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong). Ku-jawab: Inilah batas antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta…

Jika hamba-Ku mengatakan: “Ihdinassiraatal mustaqiem… dst” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat), Ku-jawab: Inilah bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta (HR. Muslim).

Mulai sekarang, biasakan tiap kali membaca Al Fatihah bersikaplah seakan Anda mendengar jawaban Allah pada tiap ayatnya…

12. Merenungi setiap Gerakan, Bacaan dan Dzikir-dzikir dalam sholat

 Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan :

Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang merenungi makna-makna Al-Qur’an, yaitu keajaiban-keajaiban Asma dan Shifat Allah. Itu terjadi tatkala orang tadi menuangkan segala curahan iman dalam hatinya, sehingga dia dapat memahami bahwa segala Asma dan Shifat Allah itu memiliki tempat  disetiap gerakan sholat.

Artinya bersesuaian, tatkala ia tegak berdiri ia dapat menyadari ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila dia bertakbir ia ingat akan ke-Maha Agungan Allah . (Ash-Shalah)

Kekhusyu’an dalam sholat juga akan terwujud jika kita mengerti makna bacaan dan dzikir yang kita baca, merenungi dan menghayatinya sehingga akan meneteskan airmata dan sentuhan dalam jiwa

 13. Ikhlas dalam melaksanakannya

Ikhlas artinya bertujuan hanya untuk Allah semata, mengharap hanya Wajah Allah, suatu amalan yang ikhlas dengan sendirinya akan mudah meleburkan diri hamba kedalam ibadah itu sendiri.

 Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (Al-Mulk: 2)

Berkenaan dengan ini Fudhail bin Iyadh pernah menyatakan : Yang terbaik amalannya adalah yang paling ikhlas (hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan paling benar (sesuai sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam). [Al-Hilyah]

Kekhusyu’an yang tertanam dalam hati seorang manusia, akan membuahkan ketenangan dalam gerakan anggota badannya, merasakan ruh ibadah dan bisa menikmati kelezatan beribadah. Inilah sumber kekuatan seorang mukmin, bersumber dari hati dan bermuara ke anggota badan lainnya.

Saudaraku, sungguh inilah yang banyak dilalaikan oleh sebagian besar kaum muslimin saat ini. Sholat mereka secepat kilat, bibir komat-kamit laksana bacaan mantra dan tidak paham  maknanya. Allahu musta’an.

Tidak kita pungkiri memang di sebagian masyarakat kita sholat kini mulai diabaikan, dianggap melelahkan, menguras waktu dan terkesan membosankan, pelaksanaannya disepelekan, Kaum Muslimin –kecuali yang dirahmati oleh Allah- telah kehilangan miliknya yang paling berharga dalam menjalankan sholat yakni : kekhusyu’an. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Sesungguhnya karunia yang pertama dicabut Allah dari para hamba-Nya adalah kekhusyu’an dalam sholat (HR. Bukhari)

Perkara ini, yaitu khusyu’ merupakan perkara yang berat membutuhkan usaha dan jerih payah. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia paling mulia berlindung kepada Allah dari hati yang lalai, dari hati yang tidak khusyu’ :

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari doa yang tidak terkabul” (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan An Nasa’i)

Maka marilah kita berupaya memperoleh kekhusyu’an sholat kita yang menjadi ciri kita sebagai orang yang beriman dan sebagai pertanda bahwa kita meyakini hari kebangkitan dan hari  pembalasan segala amal perbuatan.

Hanya kepada Allah kita memohon hidayah dan petunjuk. Ya Rabb jadikanlah Kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang khusyu’. Amiin.

Disusun oleh: Irwan Syahputra L

*Referensi

33 Fator khusu’ dalam sholat – Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid- download disini

Khusu’ didalam Ibadah –Hanif Nur Fauzi

Dan Lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s