Cara Pandang Orang Beriman thd Turunnya Hujan

Posted: 24 Januari 2012 in Islam, Sains
Tag:,

Semasa duduk di bangku SD, Anda telah diajari bagaimana proses hujan bisa terjadi. Berawal dari air laut yang menguap, hingga menjadi awan, dan kemudian di bawa oleh angin hingga akhirnya turun kembali ke bumi dalam bentuk hujan. Dan mungkin pelajaran tentang proses terjadinya hujan ini, menghantarkan Anda pada satu kesimpulan, yaitu hujan adalah satu proses alami. Bukankah demikian saudaraku?

Namun sekarang, setelah dewasa dan mungkin mengenyam pendidikan tinggi, atau menjadi seorang ilmuan, dan kenyang dengan asam garam kehidupan, masihkan Anda menerima begitu saja kesimpulan di atas? Tidakkah pernah terbetik di pikiran Anda keinginan untuk merenungkan kembali kesimpulan Anda?

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاء مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tAnda-tAnda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah: 164)

Mungkin pertanyan-pertanyaan berikut sidikit membantu Anda dalam memikirkan kembali teori hujan yang telah Anda pelajari semasa duduk di bangku SD.

Mengapa air laut menguap ketika disinari oleh matahari?

Mengapa yang menguap hanya airnya saja, sedangkan kandungan garamnya tidak turut menguap.

Ketika air disinari matahari, mengapa naik ke langit dalam bentuk uap, namun ketika turun kembali turun dalam bentuk tetesan?

Dan mengapa uap air yang telah membeku di awan, ketika turun tidak pernah mengalir bak air terjun, akan tetapi sejak dahulu kala hujan turun dalam bentuk tetesan?

Mengapa ketika air hujan turun tidak turun dalam bentuk uap sebagaimana ketika terangkat ke awan?

Setelah Anda merenungkan berbagai pertanyaan di atas, silahkan Anda lanjutkan renungan Anda dengan menyelami kandungan ayat-ayat berikut:

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاء الَّذِي تَشْرَبُونَ {68} أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ {69} لَوْ نَشَاء جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ . الواقعة: 68-70

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS. Al Waqi’ah: 68-70)

Mungkin ini salah satu pelajaran yang dapat kita petik dari beberapa ayat Alquran yang berbicara tentang hujan. Pada ayat-ayat tersebut diakhiri dengan kata-kata “sejatinya Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu”, sebagaimana pada ayat 50 surat Ar Rum dan ayat 31 surat Fusshilat di atas.

Saudaraku, Kemajuan ilmu dan teknologi memang dalam banyak hal menguntungan umat manusia. Namun di sisi lain, tanpa Anda sadari menjadikan Anda mudah lalai dari Allah Azza wa Jalla. Akibatnya, berbagai tanda kekuasaan Allah Ta’ala yang ada di sekitar Anda kini seakan tidak berarti bagi Anda. Karena kronologi terjadinya berbagai kekuasaan Allah, semacam gerhana matahari, turunnya hujan, gempa bumi, dan lainnya, hati Anda tidak tersentuh ketika menyaksikannya. Kini Anda sering menamakan berbagai kejadian itu sebagai fenomena alam atau ungkapan serupa.

Tidak diragukan, sikap Anda ini mencerminkan jauhnya diri Anda dari sentuhan nilai-nilai iman kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagai buktinya, ketika turun hujan, Anda tidak lagi peka bahwa hujan adalah kuasa Allah, bahkan lebih jauh Anda mengganggap hujan sebagai siklus alam. Hujan turun karena musimnya telah tiba dan berhenti ketika musim kemaru telah tiba pula. Hanya sampai disini keyakinan dan tanggapan Anda. Entah mengapa Anda tidak melanjutkan komentar Anda dengan satu pertanyaan: siapakah yang mengatur musim, dan menciptakan serta mengatur perputaran matahari?

Menyadari akan adanya peluang terjadinya kemalasan berpikir semacam ini, Rasulullah e merasa perlu untuk memperingatkan para sahabatnya.

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ « هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ » . قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ « أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

Sahabat Zaib bin Khalid Al Juhani menuturkan, “Seusai shalat shubuh pada suatu pagi yang pada malam harinya kami diguyur hujan, Rasulullah e menghadap kepada kami dan bertanya, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Allah?” Sepontan para sahabat menjawab, “Hanya Allah dan rasulul-Nya yang mengetahui. Allah berfirman, “Pada pagi ini, ada dari hambaku yang beriman kepada-Ku dan juga kafir.” Adapun yang mengatakan,

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

“Kami mendapat karunia hujan karena kemurahan Allah dan kasih sayang-Nya” maka ia beriman  kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Sedangkan orang yang berkata, “Kami mendapat hujun karena bitang ini dan bintang itu telah terbit (musim pernghujan telah tiba), maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (Muttafaqun ‘alaih)

Demikianlah ucapan yang biasa terucap dari lisan kita setiap kali hujan turun: “Hujan terus menerus karena musim penghujan telah tiba.” Namun jarang dari kita yang menyadari bahwa hujun turun murni karena perintah dan karunia Allah. Kita melalaikan Allah dan senantiasa mengingat musim, padahal Allah telah buktikan bahwa musim bisa berubah-rubah sehingga turunnya hujan tidak menentu, sebagaimana yang terjadi pada akhir-akhir ini.

Saudaraku, Sebagai  umat yang beriman, marilah kita kembali ke jalan Allah, sehingga kita dapat memandang dan menilai segala urusan dengan cara pandang seorang yang beriman.

sumber: http://pengusahamuslim.com/mengenal-hujan-bagian-1376

baca juga:

http://pengusahamuslim.com/mengenal-hujan-bagian-1377

http://pengusahamuslim.com/mengenal-hujan-selesai-1378

ceramah mp3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s